Sejarah Perlawanan Rakyat Kalimantan kepada Belanda

By | August 9, 2020

soalbelajar.web.id – Sejarah Perlawanan Rakyat Kalimantan kepada Belanda – Perang Banjar terjadi dalam wilayah Kalimantan Selatan, Kerajaan Banjar. Perang tersebut berlangsung selama hampir setengah abad.

Apabila dilihat dari coraknya, perlawanan bisa dibedakan antara perlawanan ofensif dan defensif. Perlawanan ofensif berlangsung dalam waktu relative singkat, yaitu pada tahun 1859 hingga 1863. Sedangkan perlawanan defensive yang mengisi seluruh perjuangan selanjutnya, terjadi pada tahun 1863 hingga 1905.

Pada tahun 1859 terjadi perlawanan akibat ketidaksenangan rakyat Banjar dengan diangkatnya Pangeran Tamjidillah. Hal itu dikarenakan persoalan pajak dan kerja wajib yang ditentukan semakin berat dan bisa menyebabkan menyempitnya daerah kekuasaan.

Penyempitan wilayah Banjar berpangkal dari adanya hasil tertentu di wilayah kesultanan yang bisa diperdagangkan. Hasil alam wilayah tersebut yaitu lada, rotan, damar, emas, dan intan. Hasil-hasil tersebut mengundang bangsa Belanda dan Inggris datang ke Banjar.

Di abad ke-17, bangsa Belanda datang untuk berdagang. Namun, bangsa tersebut diusir karena bisa merugikan pedagang Banjar. Begitu pula yang terjadi dengan bangsa Inggris. Kedatangan bangsa-bangsa luar menimbulkan perlawanan rakyat Kalimantan, khususnya di daerah Banjar.

Bangsa Inggris meninggalkan wilayah Banjar pada abad ke-18. Di abad itu, bangsa Belanda justru datang kembali dan berhasil mendekati Sutan Tahlilillah. Di tahun 1734 dibuat sebuah perjanjian, dimana para pedagang Belanda mendapatkan fisilitas perdagangan.

Mulanya, bangsa Belanda masih mematuhi aturan yang ada dikesultan. Setelah setengah abad, Belanda mempunyai kesempatan untuk berkembang, dikarenakan adanya pertentangan di kalangan bangsawan tentang kedudukan Sultan, yakni antara Pangeran Amir dan Pangeran Nata.

Agar bisa mempertahankan kedudukannya, Pangeran Nata meminta bantuan kepada Belanda. Belanda memanfaatkan kesempatan tersebut dengan baik. Atas bantuan Belanda, Pangeran Amir akhirnya ditangkap dan dibuang ke Ceylon.

Konsekuensi dari bantuan Belanda adalah Pangeran Nata harus menyerahkan sejumlah wilayah kesultanan kepada mereka, seperti yang sudah dituliskan dalam perjanjian 13 Agustus 1787. Di antara wilayah yang diserahkan itu adalah Kotawaringin, Kutai, Pegatan, Bulongan, dan Tanah Bumbu. Sementara, wilayah lainnya masih dikuasai oleh Sultan, tetapi hanya sebagai pinjaman.

Dari sini masih belum ada perlawanan rakyat Kalimantan. Hingga pada tahun 1811 hingga 1816 Inggris menguasai daerah-daerah bekas kekuasaan Belanda.

Inggris akhirnya meninggalkan Banjarmasin pada tahun 1816. Kemudian, tanggal 1 Januari 1817, Sultan Sulaiman membuat perjanjian baru bersama Belanda yang menyebutkan penyerahan daerah kesultan untuk Belanda.

Dengan semakin banyaknya kericuhan dan pertentangan oleh bangsawan, semakin banyak pula perjanjian baru yang muncul. Kondisi tersebut mengakibatkan daerah kekuasaan Belanda jadi semakin luas.

Perjanjian yang dibuat antara Sultan Adam Alwakish Billah dengan Belanda tanggal 4 Mei 1826, menimbulkan kesempatan Belanda untuk memperoleh daerah yang lebih luas lagi. Selain itu, pemberian kekuasaan untuk Belanda dilakukan guna menentukan personalia dalam pengangkatan pejabat kesultanan.

Weddik diangkat menjadi Gubernur Banjarmasin oleh Belanda tahun 1845 untuk menguatkan kedudukan Belanda di Banjarmasir. Dengan begitu, Belanda tidak akan tegeser oleh Inggris.

Kemudian, Gubernur Weddik membuat perjanjian dengan Sultan untuk memperbaharui perjanjian 1826. Isi perjanjian tersebut adalah penetapan batas-batas kesultanan yang baru, serta izin untuk Belanda mengerjakan proyek tambang batu arang di distrik Riam.

Di sisi lain, Belanda turut campur tangan dalam urusan intern kesultanan, yakni mengenai pengangkatan penjabat-penjabat penting, seperti jabatan Sultan. Hal ini menimbulkan kegelisahan social yang semakin besar, baik di kalangan masyarakat maupun penguasa.

Jalannya Perang

Perlawanan rakyat Kalimantan terhadap Belanda terjadi di daerah-daerah yang dipimpin oleh Pangeran Antarsari. Pada 28 April 1859, Pangeran Antasari berhasil memimpin tiga ribu orang untuk menyerang sejumlah pos Belanda. Di saat yang sama, Kyai Demang Loman beserta pasukannya sudah bergerak di sekitar Riam Kiwa dan mengancam benteng.

Kiyai Demang Leman juga memimpin perang pada tanggal 27 September 1859 di Benteng Gunung Lawak. Akibat jumlah pasukannya kalah, Kyai Demang Leman pun mengundurkan diri. Namun, rakyat masih aktif melakukan perang gerilya.

Di lain pihak, Tumenggung Surapati membantu Belanda untuk menangkap pangeran Antasari. Bulan Desember 1859, Tumenggung Surapati beserta anak buahnya menyerang balik Belanda dan menenggelamkan kapalnya.
Akan tetapi, setelah itu Tumenggung Surapati akhirnya mendapatkan serangan dari Belanda. Tumenggung Jalil juga mendapat serangan dari Belanda, yang dibantu oleb adipati Danureja yang setia pada Belanda sejak awal.

Lewat surat yang dibuat tanggal 7 Maret 1860 yang berisi permintaan agar ia menyerah dalam waktu dua belas hari, pangeran Hidayat justru tidak menyerah, sehingga dianggap sebagai pemberontakan kepada Belanda. Akibat kosongnya posisi sultan, kerajaan dihapus pemerintahan Hindia Belanda. Pada akhirnya, muncul perlawanan rakyat Kalimantan di beberapa daerah, yang mengakibatkan pemerintah Hindia Belanda kesulitan.

Pangeran Hidayat bertempur selama seminggu di Ambarawang pada tanggal 16 Juni 1860. Sayang, ia terpaksa mundur akibat persenjataan Belanda yang lebih kuat dibandingkan pasukannya.

Di tanggal 10 Juli, pasukan Pangeran Hidayat pindah setelah mendapatkan pukulan dari Belanda. Sedangkan pasukan pangeran Antasari masih gencar melakukan serangan terhadap pos-pos Belanda.

Menyerahnya Kyai Demang Leman kepada Belanda tanggal 2 Oktober 1861 telah menurunkan semangat para pejuang. Kondisi tersebut menyebabkan Pangeran Hidayat ditangkap dan diasingkan ke Jawa di tahun1862.
Sedangkan Pangeran Antasari makin gencar melakukan perlawanan, seperti saat mempertahankan benteng di Gunung Tongka pada 8 November 1861. Tangval 14 Maret 1862, rakyat Kalimantan mengangkat Pangeran Antasari sebagai pemimpin tertinggi.

Sementara itu, meski sudah menyerah, tetapi Kyai Demang Leman masih terus mengadakan perlawanan rakyat Kalimantan secara gerilya di sekitar Martapura. Kyai Demang Leman pun akhirnya ditangkap pada 17 Februari 1864 dan dibawa ke Martapura untuk mendapatkan hukuman gantung.

Akhir Perang

H. Buyasin yang memiliki banyak jasa dalam kerja sama dengan Pangeran Antasari, serta Kiyai Demang Leman turut mengalami nasib malang. Ia ditembak pada tanggal 26 Januari 1866 oleh Pembakal buang yang menjadi alat pemerintah Hindia Belanda.

Generasi penerus Pangeran Antasari, seperti M. Seman masih melanjutkan perjuangan ayahnya. Selain itu, ada juga penerus lainnya seperti Tumenggung Surapati, Matsaid, Tumenggung Naro, Penghulu Rasyid, dan Natawidjaya.
Sayangnya, perlawanan rakyat di berbagai daerah itu tak sekuat perlawanan di masa Pangeran Antasari. Di penghujung tahun 1865, Tumenggung Surapati menyerbu benteng di Muara Teweh. Namun, kekuatan pertahanan Belanda cukup besar sehingga membuatnya gagal, yang akhirnya kalah dan mengundurkan diri.

Pada akhir tahun 1870, pasukan Belanda datang. Kemudian, Pasukan Pemerintah Hindia Belanda mendekati Benteng Demang Wangkang di Durrahman sehingga terjadilah pertempuran dan menewaskan Demang Wangkang.
Saat benteng diserang pasukan belanda, Pasukan Gusti Matseman terdesak dan terpaksa meloloskan diri. Kondisi itu membuat benteng jatuh ke tangan Belanda.

Perlawanan yang dilakukan oleh Gutsi Matseman beserta rekannya berhenti di tahun 1905 setelah Gusti Matseman gugur. Setelah itu, perlawanan rakyat juga lumpuh sehingga tidak ada lagi peperangan.

Demikianlah sejarah mengenai perlawanan rakyat Kalimantan di Banjar. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *