Komponen Kurikulum: Fondasi Mencerdaskan Anak Bangsa

By | January 15, 2020

soalbelajar.web.id – Komponen Kurikulum: Fondasi untuk Mencerdaskan Anak Bangsa!. Apa yang pertama terlintas di pikiran kamu ketika mendengar kata-kata ‘komponen kurikulum’? Apakah terminologi tersebut cukup asing bagimu? Sebenarnya, kurikulum dan komponen yang membangunnya merupakan hal yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari para penggiat pendidikan, baik pelajar maupun staf pengajar. Hanya saja, kurikulum dan komponennya berdiri cukup implisit dalam dunia pendidikan negara kita karena lebih banyak berada di ‘belakang layar’ pendidikan.

Kurikulum merupakan kompas dalam pendidikan anak bangsa. Dikatakan demikian karena kurikulum berperan dalam mengarahkan staf pengajar akan arah yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Tanpanya, proses mencerdaskan anak bangsa tidak akan fokus pada tujuan yang diharapkan dan telah ditentukan. Oleh sebab itu, tidak ada salahnya untuk mengenal komponen kurikulum yang selama ini membantu mengarahkan pendidikan di negara kita, bukan?

Kurikulum: Apakah Itu?

Sebelum berinteraksi dengan komponen kurikulum, alangkah lebih baik jika kita mengenal kurikulum itu sendiri terlebih dahulu. Terminologi khas dunia pendidikan ini memang bukanlah hal yang baru di telinga berbagai kalangan. Banyak yang sudah mendengar dan mungkin mengenalnya. Namun, untuk menyelaraskan pemahaman, pengenalan akan kurikulum secara singkat akan kamu temui di halaman ini.

Kurikulum berasal dari kata ‘curir’ dalam Bahasa Yunani yang berarti pelari dan juga kata ‘curere’ yang diartikan sebagai tempat untuk berpacu. Istilah kurikulum memang pada awalnya berasal dari dunia atletik di Yunani. Dulunya, istilah itu diartikan sebagai jarak yang harus dilewati oleh pelari untuk mencapai garis akhir atau finish dan memenangkan perlombaan. Istilah tersebut lalu diadaptasi dunia pendidikan dan diartikan ulang sebagai sejumlah materi yang harus dipelajari untuk meraih gelar akhir atau ijazah.

Dari penjelasan di atas, kurikulum dapat diartikan sebagai panduan untuk mencapai tujuan akhir pendidikan yang telah dicanangkan pemerintah. Tak mengherankan, semua lembaga pendidikan di berbagai tingkatan wajib memilikinya. Tanpanya, tidak akan ada panduan yang jelas akan pelaksanaan pendidikan.

Undang-Undang No.20 Tahun 2003 mendefinisikan kurikulum sebagai seperangkat rencana dan pedoman untuk menyelenggarakan pendidikan demi tercapainya tujuan pendidikan nasional. Rencana dan pedoman tersebut terdiri dari 4 komponen yang menentukan arah jalannya pendidikan. Masing-masing komponen tersebut akan dijabarkan di bawah ini.

Komponen Tujuan

Komponen kurikulum yang satu ini berhubungan dengan hasil yang ingin dicapai melalui pendidikan atau proses pembelajaran. Tujuan akhir dari pendidikan dapat berubah dari waktu ke waktu, tergantung pada tantangan era yang dihadapi atau tuntutan zaman. Misalnya saja tujuan utama kurikulum 2013 menitikberatkan pada pendidikan karakter di samping kecerdasan intelektual. Hal ini agak berbeda pada kurikulum-kurikulum sebelumnya dimana pendidikan karakter tidak menjadi sorotan utama. Pesatnya kemajuan teknologi dan tantangan yang ada menjadi penyebab utama.

Pada skala besar atau makro, tujuan kurikulum didasari oleh filosofi yang dianut oleh pemerintah dan masyarakat. Misalnya saja, Indonesia mengacu pada sistem nilai pada Pancasila, sehingga tujuan dari kurikulum yang ada berkiblat ke Pancasila. Pada skala mikro, tujuan kurikulum dikaitkan dengan visi dan misi yang ditetapkan unit pendidikan, misalnya sekolah.

Komponen Isi

Komponen isi pada kurikulum berkaitan erat dengan materi pembelajaran. Dengan kata lain, kurikulum berisi berbagai bahan ajar yang akan diberikan pada siswa demi mencapai tujuan pendidikan yang dicita-citakan. Bukan hanya bahan ajar, kegiatan dan aktivitas yang dilakukan dengan bahan ajar tersebut pun harus tergambar dalam kurikulum. Singkatnya, komponen isi ini mengharuskan suatu kurikulum memuat materi apa yang akan dipelajari siswa dan melalui aktivitas apa mereka menerimanya.

Bahan ajar yang diberikan pada siswa tentu saja tidak bisa asal-asalan. Komponen tujuan pada kurikulum jelas menjadi acuannya. Bahan ajar tersebut juga harus sesuai dengan jenjang pendidikan siswa dan bermanfaat bagi perkembangan intelektual dan kepribadiannya. Selain itu, materi yang diberikan juga harus merefleksikan kenyataan sosial yang ada.

Dalam memberikan materi kepada siswa pun, para pengajar tidak bisa sembarangan. Terdapat beberapa prinsip pedagogis yang harus diikuti. Dengan begitu, pemahaman siswa terhadap bahan ajar tersebut akan lebih baik. Misalnya, terdapat sekuens logis dalam mengembangkan materi atau bahan ajar. Dalam hal ini, pengajar harus memberikan materi dari yang konkret ke abstrak, dari masalah yang sederhana ke kompleks, atau dari bagaimana ke mengapa.

Komponen Strategi

Komponen kurikulum selanjutnya yaitu komponen strategi. Metode atau strategi dalam kurikulum merupakan hal yang sangat esensial karena hal ini berhubungan dengan pelaksanaan kurikulum itu sendiri. Strategi yang tepat akan memastikan tercapainya tujuan pendidikan yang diidam-idamkan. Tanpa adanya strategi yang jitu, pelaksaan kurikulum hanya akan berhenti di titik tertentu tanpa menjawab dengan tuntas tujuan akhir dari pendidikan itu sendiri.

Strategi dalam kurikulum meliputi perencanaan, metode, dan juga perangkat kegiatan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Tahap perencanaan merupakan penyusunan kegiatan dengan memanfaatkan segala sumber daya dan atau kekuatan yang dimiliki dalam pembelajaran. Semua yang ada diarahkan untuk mencapai tujuan akhir yang diinginkan.

Metode merupakan segala upaya yang dilakukan untuk mencapai tujuan akhir. Dengan kata lain, metode merupakan bentuk realisasi dari strategi yang direncanakan. Misalnya, untuk melakukan strategi ekspositori pada siswa, metode tanya jawab, diskusi, atau metode ceramah bisa digunakan dengan memanfaatkan secara maksimal segala sumber daya (media pembelajaran) yang ada.

Strategi dan metode yang digunakan dapat bersumber dari berbagai pendekatan yang ada dalam dunia pendidikan. Misalnya saja pada student-centered approach atau pendekatan yang menjadikan siswa sebagai pusat dalam pembelajaran, strategi pembelajaran induktif, dan strategi discovery-inquiry dapat digunakan. Sementara dalam teacher-centered approach, strategi instruksi langsung awam digunakan.

Komponen Evaluasi

Evaluasi merupakan hal yang senantiasa menempel pada kurikulum. Tanpanya, tidak akan dapat diketahui dengan jelas apakah suatu kurikulum layak atau tidak untuk dipertahankan. Evaluasi juga dapat menunjukkan bagian-bagian mana saja dalam kurikulum yang perlu disempurnakan. Dengan kata lain, evaluasi adalah komponen untuk mengecek keefektifan suatu kurikulum yang sedang diberlakukan dalam mencapai tujuan akhir pendidikan.

Evaluasi hadir dalam berbagai variasi. Fokus evaluasi menentukan instrumen yang digunakan dalam memberikan evaluasi. Jika fokus evaluasi jatuh pada dimensi kualitatif, maka instrumen yang digunakan yaitu kuesioner, inventori, catatan anekdot, ataupun wawancara. Sementara itu, jika dimensi kuantitatif menjadi fokus evaluasi, maka tes prestasi belajar, tes diagnostik, dan tes standar lainnya dapat digunakan sebagai instrumen.

Kesadaran untuk mengenal kurikulum bukan hanya kewajiban staf pengajar semata. Orang tua dan juga penggiat pendidikan lainnya disarankan untuk tidak tutup mata akan perangkat pendidikan yang satu ini. Dengan mengenal kurikulum dan mengetahui komponen kurikulum, maka kerja sama untuk meraih tujuan akhir pendidikan dalam rangka mencerdaskan anak bangsa akan lebih mudah tercapai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *