Pengertian Nekara dan Sejarahnya di Indonesia

By | December 4, 2019

soalbelajar.web.id – Pengertian Nekara dan Sejarahnya di Indonesia. Di beberapa wilayah Indonesia banyak arkeolog menemukan Nekara yang terbuat dari perunggu. Nekara ini berbentuk gendang dengan ukuran yang lebih besar dari gendang umumnya. Ia memiliki beberapa nama lain, yaitu Kobah dan Nobat.

Dilihat dari bahan dasar pembuatannya, bisa dipastikan bahwa Nekara merupakan salah satu benda peninggalan zaman dahulu, tepatnya zaman perunggu. Lalu, apa itu Nekara?

Pengertian Nekara

Pengertian Nekara adalah sebuah peninggalan zaman purbakala yang digunakan dalam kegiatan upacara atau ritual. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, Nekara adalah gendang besar yang terbuat dari perunggu yang memiliki hiasan-hiasan seperti orang menari, perahu, topeng, dan lain sebagainya.

Nekara juga salah satu peninggalan dari zaman perunggu dan banyak digunakan untuk kegiatan upacara, keagamaan. Selain digunakan untuk upacara atau ritual, Nekara memiliki beberapa fungsi.

Nekara di Indonesia

Sebelumnya telah dijelaskan tentang pengertian Nekara dan disebutkan bahwa ditemukan Nekara di beberapa wilayah di Indonesia. Yang pertama, Nekara di pulau Bima dan Sumbawa. Nekara perunggu dengan ukir-ukiran sebagai hiasan. Pola hiasan dari Nekara yang di Bima dan Sumbawa berupa orang-orang tengah menari mengenakan hiasan bulu burung dan juga terdapat gambar perahu. Konon, hiasan perahu tersebut adalah perahu jenazah. Perahu yang khusus dibuat untuk mereka yang telah meninggalkan dunia.

Lalu, ada Nekara dari Pulau Alor yang disebut dengan Moko. Berdasarkan penelitian sejumlah ilmuwan, Moko sebenarnya dibuat di Gresik lantas dibawa oleh orang-orang Bugis ke daerahnya untuk kemudian dibawa ke Nusa Tenggara sebagai barang dagangan.

Sedikit berbeda dari pengertian Nekara, di daerah Manggarai Flores, Moko disebut dengan ‘gendang gelang’ atau ‘tambur’. Umumnya, Moko ini hanya dimiliki oleh kepala suku yang kemudian diturunkan kepada anak lelakinya.

Sedangkan di Pulau Jawa, Moko disebut dengan ‘tamra’ atau ‘tambra’. Beralih ke Pulau Roti, Moko ini disebut dengan ‘Moko Malai’ yang memiliki arti pulau besar dari Malai atau Malaya. Lalu ada ‘Tifa Guntur’ sebutan Moko dari Maluku. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa persebaran dari Moko ini meliputi Pulau Alor, Jawa, Nusa Tenggara, Pulau Roti, Maluku, dan Flores.

Nekara terbesar di Indonesia ditemukan di Bali, tepatnya di dekat Manuaba daerah Pejeng Bali. Nah, Nekara ini disebut dengan Nekara Pejeng atau Bulan Pejeng yang memiliki tinggi 1,98 meter dengan bidang pukul sebesar 1,60 meter. Saat ini, Nekara yeraenit disimpan di pusat penataran Sasih dan hingga saat ini Nekara ini masih dianggap keramat oleh warga sekitar. Untuk lebih menguatkan dokumen ini, G. E. Rumpuis mengadakan penelitian terkait Nekara. Dimulai dari pengertian Nekara ia kemudian melaporkan hasil penelitiannya.

Penelitian ini terjadi pada tahun 1704 meneliti Bulan Pejeng. Dari penelitian lain pada tahun 1930, E. C. Barehewitz juga mengeluarkan hasil penelitiannya tentang Nekara dari Nusa Tenggara Timur. Sebelum muncul penelitian ini, A. B. Meyer telah menemukan beberapa Nekara dari Jawa, Salayar, Luang, Roti, dan Leti.

A. B. Meyer bersama W. Fox kemudian membandingkan temuan ini dengan Nekara yang ada di Asia Tenggara. Dari sana dapat disimpulkan bahwa persebaran Nekara perunggu berpusat di Khmer kemudian kemnyebar ke Asia Tenggara termasuk Indonesia. Selanjutnya ada penelitian yang dilakukan oleh R. P. Soejono yang menghasilkan benda-benda terbuat dari perunggu di Gilimanuk Bali dan Leuwi Liang di Bogor. Dari penampakan-penampakan Nekara ini, alhasil dapat disimpulkan bahwa pengertian Nekara adalah gendang besar terbuat dari perunggu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *